ikhlas,taubat dan taat

TUGAS
MATERI PAI
“IKHLAS, TAUBAT, TAAT”
Dosen : Buzairi, M.Pd.

Oleh
Ach mukhsin alfiyah
Ach ghazali
Sekolah Tingi Agama Islam Ahlussunnah Waljamaah
(STAI ASWAJ)
Ambunten-sumenep
2010

BAB I
PENDAHULUAN

Kelahiran islam di semenanjung Arabia menandai datangnya suatu era, alam fikiran dan pendidikan baru. Islam tidak muncul di dalam ruang hampa, tetapi di tengah-tengah kondisi social yang penuh dengan pertentangan antar lapisan social, kejumudan berfikir, dan kekacauan alam fikiran, terutama mengenai hubungan antara individu dan penciptanya, kondisi tersebut berdampak pada tingkah laku sehari-hari individu serta aspek-aspek social kehidupan material dan mental masyarakat jahiliyyah (Watak Pendidikan Islam, hal. 150).
Nabi Muhammad saw diutus kedunia yaitu hanya ingin memperbaiki akhlak, karena pada waktu itu tingkah laku orang jahiliyyah sangat keterlaluan, ada yang membunuh anaknya sendiri tanpa mengenal rasa kasihan, yang kuat berkuasa terhadap yang lemah, perang antar suku dan masih banyak yang lainnya. Sebenarnya orang yang hidup pada zaman jahiliyyah orang banyak yang ahli perang, sastra, ahli politik. Akan tetapi akhlak mereka bejat maka orang yang hidup pada masa itu disebut orang jahiliyyah.
Akhlak itu ada dua macam yaitu: Akhlak terpuji dan Akhlak tercela. Di dalam makalah ini kami hanya memfokuskan terhadap akhlak terpuji, akhlak terpuji itu banyak macamnya tapi disini adalah ikhlas, taubat dan taat. Dimana salah satu yang tiga ini merupakan bagian dari akhlak yang terpuji.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Ikhlas
A. Pengertian Ikhlas
Ada beberapa pengertian ikhlas, diantaranya:ikhlas adalah Semata-mata bertujuan karena Allah ketika melakukan ketaatan.. Ada yang mengatakan ikhlas ialah membersihkan amalan dari ingin mencari perhatian manusia.
Sebagian lagi ada yang mendefinisikan bahwa orang yang ikhlas ialah orang yang tidak memperdulikan meskipun seluruh penghormatan dan peng-hargaan hilang dari dirinya dan berpindah kepada orang lain,karena ingin memperbaiki hatinya hanya untuk Allah semata dan ia tidak senang jikalau amalan yang ia lakukan diperhatikan oleh orang,walaupun perbuatan itu sepele. Ditanya Sahl bin Abdullah At-Tusturi, Apa yang paling berat bagi nafsu? Ia menjawab: “Ikhlas, karena dengan demikian nafsu tidak memiliki tempat dan bagian lagi.” Berkata Sufyan Ats-Tsauri: “Tidak ada yang paling berat untuk kuobati daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”
B.Perusak-perusak keikhlasan
Ada beberapa hal yang bisa merusak keikhlasan yaitu:
Sum’ah, yaitu beramal dengan tujuan untuk didengar oleh orang lain (mencari popularitas).
Ujub, masih termasuk kategori riya’ hanya saja Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan keduanya dengan mengatakan bahwa: “Riya’ masuk didalam bab menyekutukan Allah denga makhluk, sedang ujub masuk dalam bab menyekutukan Allah dengan diri-sendiri. (Al fatawaa, 10/277) Disamping itu ada bentuk detail dari perbuatan riya’ yang sangat tersembunyi, atau di sebut dengan riya’ khafiy’ yaitu:
Seseorang sudah secara diam-diam melakukan ketaatan yang ia tidak ingin menampakkannya dan tidak suka jika diketahui oleh banyak orang, akan tatapi bersamaan dengan itu ia menyukai kalau orang lain mendahului salam terhadapnya, menyambutnya dengan ceria dan penuh hormat, memujinya, segera memenuhi keinginannya, diperlakukan lain dalam jual beli (diistimewakan), dan diberi keluasan dalam tempat duduk. Jika itu semua tidak ia dapatkan ia merasa ada beban yang mengganjal dalam hatinya, seolah-olah dengan ketaatan yang ia sembunyikan itu ia mengharapkan agar orang selalu menghormatinya.
Menjadikan ikhlas sebagai wasilah (sarana) bukan maksud dan tujuan.
Syaikhul Islam telah memperingatkan dari hal yang tersembunyi ini, beliau berkata: “Dikisahkan bahwa Abu Hamid Al Ghazali ketika sampai kepadanya, bahwa barangsiapa yang berbuat ikhlas semata-mata karena Allah selama empatpuluh hari maka akan memancar hikmah dalam hati orang tersebut melalui lisanya (ucapan), berkata Abu Hamid: “Maka aku berbuat ikhlas selama empat puluh hari, namun tidak memancar apa-apa dariku, lalu kusampaikan hal ini kepada sebagian ahli ilmu, maka ia berkata: “Sesungguhnya kamu ikhlas hanya untuk mendapatkan hikmah, dan ikhlasmu itu bukan karena allah semata. Kemudian Ibnu Taymiyah berkata: “Hal ini dikarenakan manusia terkadang ingin disebut ahli ilmu dan hikmah, dihormati dan dipuji manusia, dan lain-lain, sementara ia tahu bahwa untuk medapatkan semua itu harus dengan cara ikhlas karena Allah.Jika ia menginginkan tujuan pribadi tapi dengan cara berbuat ikhlas karena Allah,maka terjadilah dua hal yang saling bertentangan. Dengan kata lain, Allah di sini hanya dijadikan sebagai sarana saja, sedang tujuannya adalah selain Allah.
B. Cara-cara mengobati riya’
Harus menyadari sepenuhnya, bahwa kita manusia ini semata-mata adalah hamba. Dan tugas seorang hamba adalah mengabdi dengan sepenuh hati, dengan mengharap kucuran belas kasih dan keridhaanNya semata.
Menyaksikan pemberian Allah, keutamaan dan taufikNya, sehingga segala sesuatunya diukur dengan kehendak Allah bukan kemauan diri sendiri. Selalu melihat aib dan kekurangan diri kita, merenungi seberapa banyak bagian dari amal yang telah kita berikan untuk hawa nafsu dan syetan. Karena ketika orang tidak mau melakukan suatu amal, atau melakukannya namun sangat minim maka berarti telah memberikan bagian (yang sebenarnya untuk Allah), kepada hawa nafsu atau syetan. Memperingatkan diri dengan perintah-perintah Allah yang bisa memperbaiki hati. Takut akan murka Allah, ketika Dia melihat hati kita selalu dalam keadaan berbuat riya’ Memperbanyak ibadah-ibadah yang tersembunyi seperti qiyamul lail, shadaqah sirri, menagis karena Allah dikala menyendiri dan sebagainya Membuktikan pengagungan kita kepada Allah, dengan merealisasikan tauhid dan mengamalkannya. Mengingat kematian dan sakaratul maut, kubur dan kedah syetannya, hari akhir dan huru-haranya.
2. Taubat
Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.
Terma dari akar kata “taubat” dalam bahasa Arab menunjukkan pengertian: pulang dan kembali. Sedangkan taubat kepada Allah SWT berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya serta tetap di pintu-Nya.
Karena pada dasarnya manusia harus bersama Allah SWT dan selalu berhubungan dengan-Nya, dan tidak menjauhi-Nya. Manusia tidak dapat membebaskan diri dari Allah SWT untuk memikirkan kehidupan fisiknya saja, juga tidak dapat membebaskan dirinya dari Allah SWT karena memikirkan kebutuhan hidup ruhaninya saja. Bahkan kebutuhannya kepada Allah SWT di akhirat akan lebih besar dari kebutuhannya di dunia. Karena kehidupan dan kebutuhan fisik itu secara bersamaan juga dilakukan oleh binatang yang tidak dapat berpikir, sementara kebutuhnan ruhani adalah sisi yang menjadi ciri pembeda manusia dari hewan dan binatang.
Allah SWT telah menciptakan manusia dari dua unsur. Di dalam tubuhnya terdapat unsur tanah, juga unsur ruh. Inilah yang menjadikannya layak dijadikan objek sujud oleh malaikat sebagai penghormatan dan pemuliaan kedudukannya. Allah SWT berfirman:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” QS. Shaad: 71-72..
Allah SWT tidak memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam kecuali setelah Allah SWT memperbagus bentuknya dan meniupkan ruh ke dalam tubuhnya.
Ketika manusia ta’at kepada Rabbnya berarti tiupan ruh itu mengalahkan sisi tanahnya. Atau dengan kata lain, sisi ruhani mengalahkan sisi materi. Dan sisi Rabbani mengalahkan sisi tanah yang rendah. Maka manusia meningkat dan mendekat kepada Rabbnya, sesuai dengan usahanya untuk meningkatkan sisi rohaninya ini.
Ketika manusia berbuat maksiat terhadap Rabbnya, maka posisi itu terbalik; sisi tanah mengalahkan sisi ruh, dan sisi materi yang rendah mengalahkan sisi Rabbani yang tinggi. Maka manusia merendah dan menjadi lebih hina, serta menjauh dari Allah SWT sesuai dengan seberapa jauh dosa dan kemaksiatan yang ia lakukan.
Kemudian taubat memberikan kesempatan kepadanya untuk mencapai apa yang tidak ia dapatkan, serta meluruskan kembali perjalanan hidupnya. Maka manusia itupun kembali menaik setelah kejatuhannya, dan mendekat kepada Rabbnya setelah ia menjauhi-Nya, serta kembali kepada-Nya setelah memberontak dari-Nya.
3. Taat
Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah carut-marut kehidupan politik di negeri-negeri muslim prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharus sikap seorang muslim terhadap pemerintah baik yang adil maupun yang dzalim.
Telah memerintahkan Allah kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasa betapapun jelek dan dzalim mereka. Tentu dengan syarat selama para penguasa tersebut tidak juga memerintahkan agar kita menampakkan kekafiran yang nyata.Aga bersabar menghadapi kedzaliman mereka dan tetap berjalan di atas sunnah. Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasa maka mati jahiliyyah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Alla seperti keadaan orang-orang jahiliyyah.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasa maka bersabarlah! Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliyyah.”
Kewajiban taat kepada pemerintah adalah terhadap tiap pemerintah ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah penguasa meskipun jahat dzalim atau melakukan banyak kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah dengan memberikan hak mereka yaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita.
Meskipun tetap memerintahkan penguasa tersebut cacat secara fisik Rasulullah kita untuk tetap mendengar dan taat. Walaupun rite asal dalam memilih pemimpin adalah laki2 dari Quraisy berilmu tidak cacat dan seterus namun jika seseorang yg tidak memenuhi riteria tersebut telah berkuasa –apakah dengan pemilihan kekuatan dan peperangan- maka ia adalah penguasa yg wajib ditaati dan dilarang memberontak kepadanya. Kecuali jika mereka memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan maka tidak perlu menaati dengan tidak melepaskan diri dari jamaah.
DAFTAR PUSTAKA

http://blog.re.or.id/kewajiban-taat-kepada-pemerintah.htm
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1015&Itemid=14
http://www.alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=185
 DR.YusufAl-Qardhawi. Tuntunan bertaubat kepada allah. Judul Asli: at Taubat Ila Allah Penerjemah: Abdul Hayyie Al Kattani
 Nur, Heru dan Munzier. Watak Pendidikan Islam. Jakarta: Friska Agung Insani, 2003.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kisah Nyata

Kumpulan kisah nyata, Paling seru, paling panas dan paling besar

Akidah Menurut Ajaran Nabi

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Almalakawi's Blog

من يرد الله به خيرا يفقهه فى الدين Barang siapa yang Allah kehendaki kebajikan nescaya Allah beri faham tentang agama

Hikmatun

Santapan rohani menuju negeri abadi

Educrazy's Blog Title

Tutorial WordPress dan Gudangnya Pengetahuan

Kisah Muallaf

Mengapa Kami Memilih Islam

TUNTUNAN SHOLAT LENGKAP

TUNTUNAN SHALAT Berdasarkan As-Sunnah As-Shohihah

%d blogger menyukai ini: